Logo
+62 361 9009421
  • Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Badung - Alamat : Jalan Raya Sempidi - Mangupura - Badung Bali - Telp : +62 361 9009421 - Fax : +62 361 9009423 - Email : dikes@badungkab.go.id
  • Selamat datang di Website Resmi Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Badung - Menyajikan Informasi Terkini seputar Program Kerja dan Agenda Kegiatan. Selamat datang di Website Resmi Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Badung - Menyajikan Informasi Terkin
Rabu Pon
Logo

Dr. I Gede Putra Suteja

Kadis Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Badung

Sejalan dengan pesatnya kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi serta menyikapi perkembangan tuntutan masyarakat guna mendapatkan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan adanya Tata Kepemerintahan yang baik. Tata Kepemerintahan yang baik antara lain bercirikan Transparansi, Efisien, Efektif, Profesional dan Akuntable yang dibangun atas dasar komunikasi yang sehat antara Pe

Foto Galeri

HKN-52

LIHAT LAINNYA

Video Galeri

Dinas Kesehatan Adakan sosialisasi Perda KTR ke kampus-kampus

LIHAT LAINNYA

Jajak Pendapat

Bagaimana Pendapat Anda tentang Website Dinas Kesehatan Kabupaten Badung?

    Res : 86 Responden

Baca Berita

Program Inovasi Dinas Kesehatan Badung : Tantangan Layanan Kesehatan Dan Hasil

Oleh : dikesbadung | 20 Mei 2015 | Dibaca : 9836 Pengunjung

Layanan bidang kesehatan merupakan salah satu urusan otonomi yang memiliki banyak ruang inovasi karena tantangan layanan kesehatan bersifat sangat kompleks. Kompleksitas itulah yang selalu menghasilkan berbagai ide selain mengedepankan skala prioritas. Dalam bidang kesehatan, hampir semua masalah yang dihadapi merupakan prioritas yang sulit ditunda penyelesaiannya.
 
Masalah di bidang kesehatan bila diabaikan selalu memunculkan masalah baru dimana dalam indikator evaluasinya, senantiasa memunculkan beberapa isu strategis yang bersifat klasik. Mulai tentang ketidaktercukupan SDM, sarana prasarana, aksesibilitas layanan, sampai manajemen layanan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Kondisi di berbagai daerah ternyata semua isu strategis itu merupakan prioritas masalah kesehatan yang harus segera ditangani tanpa mengabaikan salah satu di antara yang lainnya.
 
Terhadap kondisi kesehatan di Kabupaten Badung, tantangan berat Dinas Kesehatan selaku SKPD yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di tingkat kabupaten yaitu mengelola UPT Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan terdepan agar mampu menyediakan pelayanan yang lebih berkualitas. Hal ini didasarkan bahwa layanan kesehatan tidak sekedar upaya pengobatan (kuratif) saja melainkan bertanggung jawab pula terhadap upaya perlindungan dan pencegahan penyakit (preventif). Bahkan berperan juga sebagai regulator bagi layanan kesehatan di unit swasta.
 
Dinas Kesehatan Kabupaten Badung tidak hanya memprioritaskan layanan yang lebih bersifat kuratif seperti mempercanggih layanan, tetapi juga membutuhkan UPT
puskesmas yang memiliki tanggung jawab kewilayahan untuk melakukan upaya kesehatan preventif, seperti penyuluhan kesehatan. Pada saat yang sama, upaya kesehatan kuratif maupun preventif harus dirasakan secara merata Dengan demikian, ketika kebijakan daerah memprioritaskan pemenuhan tenaga kesehatan sementara sarana prasarana masih kekurangan, maka layanan kesehatan tidak bisa berjalan efektif. Di sisi lain, pemenuhan SDM dan sarana prasarana
pada saat yang sama harus disertai pemerataan layanan sehingga aksesibilitas menjadi hal penting. Dalam bahasa sederhana, aksesibilitas diartikan sebagai mudahnya layanan, murahnya layanan, dan meratanya layanan kesehatan.
 
Dinas Kesehatan Kabupaten Badung sebagai salah satu instansi pelayanan publik bertugas sebagai pemberi pelayanan di bidang kesehatan bagi masyarakat Badung. Dalam melayani masyarakat tentunya berbagai keluhan pasti sangat banyak karena menyangkut kepentingan orang banyak. Oleh karena itu diperlukan sebuah inovasi atau sebuah pembaharuan. Inovasi setidaknya akan menjadikan sebuah pelayanan menjadi lebih cepat, efisien dan transparan.
 
PROGRAM INOVASI PELAYANAN PUBLIK BIDANG KESEHATAN
Program inovasi pelayanan publik yang sudah dilaksanakan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Badung adalah :
  1. Meningkatkan fungsi pelayanan kesehatan masyarakat melalui UPT Puskesmas dengan layanan UGD 24 jam dan layanan rawat jalan (PROGRAM LAYANAN UGD 24 JAM)
  2. Memberikan jaminan kesehatan gratis kepada seluruh masyarakat melalui program Jaminan Kesehatan Krama Badung Manguwaras (PROGRAM JKKB MANGUWARAS)
  3. Program Badung Getting to Zero dalam Penanggulangan HIV/AIDS (PROGRAM BADUNG GETTING TO ZERO)
  4. Pemberian vaksinasi kanker serviks gratis kepada semua siswi SMAN kelas X se­Kabupaten Badung dan karyawati Pemerintah Kabupaten Badung (PROGRAM VAKSINASI KANKER SERVIKS)
  5. Layanan IMS, HIV dan AIDS Komperehensive Berkesinambungan (PROGRAM LKB)
  6. Layanan Deteksi Dini Kanker Payudara Mobile
(PROGRAM MAWAS)
III. URAIAN PROGRAM INOVASI PELAYANAN PUBLIK BIDANG KESEHATAN
1. PROGRAM LAYANAN UGD 24 JAM
Kesehatan sebagai Hak Asasi Manusia secara tegas
diamanatkan oleh UUD 1945, dinyatakan bahwa setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal
dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO) tahun 1948 juga menyatakan
bahwa Health is Fundamental Right, yang mengandung
suatu kewajiban untuk menyehatkan yang sakit dan
mempertahankan serta meningkatkan yang sehat. Hal ini
melandasi pemikiran bahwa sehat sebagai hak asasi manusia
dan sehat sebagai investasi.
Pembangunan kesehatan secara umum bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk
mempercepat pencapaian tujuan tersebut, Dinas Kesehatan
Kabupaten Badung melakukan Inovasi berupa “Layanan
UGD 24 Jam”. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak Januari
2011, dengan dikeluarkannya SK Bupati No.157/02/HK/2011
tentang Penetapan Puskesmas di Kabupaten Badung sebagai
Puskesmas yang melaksanakan kegiatan layanan Unit Gawat
Darurat (UGD) 24 Jam. Kegiatan yang dilakukan bersifat
komperehensif yaitu promotif, preventif, kuratif dengan
layanan khusus kegawatdaruratan dan rehabilitatif.
Dari 13 UPT Puskesmas yang ada di Kabupaten Badung, 6
(enam) UPT Puskesmas telah melaksanakan layanan UGD 24
Jam yang artinya di setiap kecamatan telah ada 1 (satu) UPT
Puskesmas yang telah ditetapkan sebagai UPT Puskesmas
dengan layanan UGD 24 Jam.
Tujuan dari kegiatan ini yaitu memberikan pelayanan yang
lebih paripurna khususnya di bidang kegawatdaruratan.
2. PROGRAM JKKB MANGUWARAS
Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial
terus berkembang. Sesuai amanat UUD 1945 pasal 34 ayat 2.
disebutkan bahwa Negara mengembangkan Sistem Jaminan
Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan dimasukkannya
Sistem Jaminan Sosial dalam perubahan UUD 1945, dan
terbitnya UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN), menjadi salah satu bukti kuat bahwa
pemerintah dan pemangku kepentingan terkait memiliki
komitmen yang besar untuk mewujudkan kesejahteraan sosial
bagi seluruh rakyatnya. Melalui SJSN merupakan salah satu
bentuk perlindungan sosial yang pada hakekatnya bertujuan
untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi
kebutuhan dasar hidupnya yang layak.
Bagi masyarakat miskin dan kurang mampu dijamin pelayanan
kesehatannya oleh pemerintah pusat, sedangkan masyarakat
di luar masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi
tanggungan pemerintah daerah. Kemudian di Pemerintah
Propinsi Bali membuat program JKBM (Jaminan Kesehatan
Bali Mandara) sejak tahun 2010. Program ini merupakan
kerjasama antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah
Kabupaten yaitu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
penduduk Bali dengan KTP BALI yang tidak memiliki jaminan
asuransi lainnya dengan jumlah kepesertaan di masyarakat
Kabupaten Badung 395.829 Jiwa.
Karena dalam pelayanan JKBM banyak ada keterbatasan dan
masyarakat banyak yang membayar diluar tanggungan JKBM,
selanjutnya di Kabupaten Badung membuat Program Jaminan
Kesehatan Krama Badung (JKKB) Manguwaras, yaitu Jenis
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat
Badung diluar tanggungan JKBM. Kegiatan ini dimulai dari
tahun 2012 sampai sekarang dengan jumlah kepesertaan sama
dengan kepesertaan JKBM 395.829 Jiwa.
Jaminan jenis pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
masyarakat Badung diluar tanggungan JKBM artinya Jenis
pelayanan yang tidak ditanggung di JKBM di tanggung di
JKBB Manguwaras. Tahun 2013 khusus untuk JKKB
Manguwaras dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan 4
(empat) Rumah Sakit yaitu : RSUD Badung, RSUD Tabanan,
RSU Wangaya dan RSUP Sanglah.
Hasil yang diperoleh dari program JKKB Manguwaras ini,
yaitu:
1. Menjamin tanggungan pelayanan kesehatan lebih
komperehensif
2. Meringankan beban masyarakat di saat berobat
3. Mencegah masyarakat di saat sakit berat menjadi jatuh
miskin
3. PROGRAM BADUNG GETTING TO ZERO
Situasi epidemi HIV­AIDS di Kabupaten Badung Bali berada
pada tingkat epidemi yang terkonsentrasi dengan jumlah kasus
HIV dan AIDS yang semakin meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan data kumulatif, total kasus HIV­AIDS di Badung
tahun 2012 adalah sebanyak 1.009 atau 14,14 % dari total
kasus di Propinsi Bali, dengan estimasi kasus sebanyak 2.312.
Faktor resiko terbanyak penyumbang kasus tahun 2012 yaitu
heteroseksual 90%, lelaki seks lelaki sebesar 6%, perinatal 2%,
penasun 1% dan tidak diketahui 1%. Keadaan ini menjadi salah
satu situasi yang mendorong dilakukannya intervensi melalui
program yang komprehensif untuk menekan penularan HIV
baru, mengurangi stigma dan diskriminasi serta menurunkan
angka kematian akibat HIV dan AIDS, melalui program “
Badung Getting to Zero “.
Program yang sudah berjalan 4 tahun ini diinisiasi oleh Komisi
Penanggulangan AIDS Kabupaten Badung yang bekerja sama
dengan Dinas Kesehatan dan Organisasi Kemasyarakatan
sebagai penjangkau dan pendamping ODHA di wilayah
Kabupaten Badung. Beberapa capaian program antara lain
adalah penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko
tinggi, saat ini permintaan pada lokasi tersebut meningkat
hingga 80%. Ibu hamil juga terpapar program pencegahan dari
ibu ke anak di fasilitas pelayanann kesehatan yang capaiannya
adalah 100%. Para bidan kini telah tersosialisasikan dengan
program PPIA, mereka mampu mendorong 80% ibu hamiil
untuk melakukan tes HIV. Upaya untuk menghilangkan stigma
dan diskriminasi terhadap penderita AIDS diindikasikan
dengan 65% tersosialisasikannya Peraturan Daerah No.1
tahun 2008 dan tata cara pemulasaran jenazah ODHA pada
populasi umum dan populasi kunci.
Keberlanjutan program dapat dilihat dengan terbentuknya
Kader Desa Peduli AIDS (KDPA) yang merupakan
pemberdayaan masyarakat desa dalam pencegahan dan
penanggulangan HIV­AIDS secara mandiri dan terstruktur.
Pada ranah pendidikan, Kelompok Siswa Peduli AIDS dan
Narkoba (KSPAN) terbentuk dengan tujuan meningkatkan
pengetahuan dan kepedulian siswa tentang HIV, AIDS dan
narkoba. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah
pembentukan dan pelatihan Guru Pembina KSPAN, pelatihan
Tutor Sebaya, Kembara (Kemah Bakti dan Gembira) KSPAN,
serta Badung Bali Stop AIDS yang didanai oleh PT. Unilever
melalui Yayasan Spektra.
4. PROGRAM VAKSINASI KANKER SERVIKS
Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan tersendiri
perempuan Bali terkait dengan insiden dan fatalitasnya.
Insidennya adalah 0,92% dan cenderung meningkat dengan
angka harapan hidup 5 tahun hanya 23,1%. Sedangkan,
etiopatogenesis dan karsinogenesisnya telah diketahui
dimana dibutuhkan 10­12 tahun sejak infeksi oleh HPV
kelompok onkogenik risiko tinggi sampai dengan terjadinya
kanker serviks. Prevensi skunder dengan motode Pap smear
sejak 3 dekade belum menunjukkan hasil terutama terkait
dengan kepedulian, pelayanan, dan kesinambungan.
Berdasarkan analisis situasi Bali 2010, metode See & Treat
dan Vaksinasi terpilih sebagai program prevensi dimana sosiobudaya­spiritual­magikal
merupakan kearifan lokal sebagian
besar masyarakatnya sangat dipertimbangkan.
Penyebab, karsinogenesis, dan patogenesis kanker serviks
sudah diketahui dan telah mendapat kesepakatan luas.
Ironisnya, sampai saat ini insiden kanker serviks di Indonesia
masih tertinggi dan merupakan penyakit ganas yang fatal. Di
Indonesia, diperkirakan 40­45 kasus baru perhari dimana
terjadi satu kematian setiap satu jam. Sementara di Bali,
insiden kanker serviks adalah 0,98% dimana terjadi tiga
kematian setiap 2 hari.
Penyebab kanker serviks 95% adalah oleh Human
papillomavirus (HPV) kelompok onkogenik risiko tinggi,
dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun sejak infeksi HPV sampai
dengan terjadinya kanker. Dengan demikian, masa ketika
perempuan belum terinfeksi HPV yaitu sebelum infeksi
persisten mencapai titik integrasi menjadi target utama
prevensi primer melalui penyuluhan dan vaksinasi.
Sementara, lesi prekanker menjadi target prevensi sekunder
melalui program See & Treat dan penanganan klinik lainnya
dalam upaya menurunkan insiden kanker serviks.
Masalah kanker serviks di Bali terkait dengan insiden yang
tinggi dan cenderung meningkat. Selain itu, harapan hidup 5
tahun juga hanya mencapai 25% saja; belum terhitung
morbiditas dan kualitas hidupnya. Insiden kanker serviks di
Bali adalah 0,98% dan lesi prekanker adalah 3,4%. Sementara,
HPV­16 dan 18 mencapai 73.7% pada kanker serviks invasif
dimana 20,8% adalah HPV­18. Kondisi ini sangat terkait
dengan bahwa 87,6% diagnosis kanker serviks ditegakkan pada
invasif, lanjut bahkan terminal. Ditambah dengan modalitas
radioterapi yang belum memadai sejak tahun 1998.
Upaya prevensi sekunder dengan Pap smear telah dilakukan
sejak 30 tahun lalu, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Hal ini
terkait dengan jumlah cakupan, sustainabilitas, dan akses
penanganan. Selanjutnya, melalui analisis SWOT dihasilkan
strategi pengendalian kanker serviks di Bali meliputi faktor
kemauan politik, kebijakan, pelayanan, sustainabilitas. Dan
diputuskan menyusun program See and Treat dan vaksinasi
dengan visi “Getting Bali Cervical Cancer Free by Year 2020”.
Upaya ini merupakan tahap pelestarian kesinambungan FcP
See & Treat Bali dan ditambah dengan Program Vaksinasi
melalui penyuluhan dan layanan. Strategi kesinambungan
pelaksanaannya melalui isu Women Reproductive Health
terutama untuk vaksinasi baik berbasis sekolah maupun diluar
sekolah; didukung oleh Company vaksin terkait.
Upaya Pencegahan Primer dilaksanakan melalui 2 kegiatan
yaiitu edukasi/sosialisasi dan imunisasi HPV. Program
vaksinasi jalur sekolah dipilih sebagai kegiatan unggulan Dinas
Kesehatan Kabupaten Badung yang meliputi penyuluhan,
pelayanan, dan kesinambungan. Umur 10 ­25 tahun
merupakan masa yang paling efektif dilakukan vaksinasi
kanker Serviks karena pada umur tersebut pembentukan
antibody dalam tubuh mencapai maksimal. Populasi targetnya
adalah Siswa SMU khususnya siswa perempuan kelas I. Hal
tersebut didasarkan pada pertimbangan aspek sosial dan
ketersediaan dana. Anak SMU sudah memasuki fase remaja
dimana pergaulan lebih rentan terhadap hal­hal yang negative.
Program ini merupakan program pioneer di Kabupaten
Badung sehingga dituntut selektif dalam penggunaan dana
tetapi dalam pelaksanaannya tepat sasaran.
Pemerintah Kabupaten Badung sangat konsen dalam kegiatan
penanggulangan kanker. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan
vaksinasi kanker serviks kepada siswi SMU Negeri se­
Kabupaten Badung sejak tahun 2012 dengan jumlah sasaran
1532 siswa . Untuk tahun 2013 dengan sasaran 1532 siswi
kelas X lama dan 1513 siswi kelas X baru dan 1360 karyawati
Pemda Badung Golongan I, II dan THL. Tahun 2014 ini
direncanakan sasarannya tidak hanya siswi SMUN seKabupaten
Badung saja melainkan juga siswi SMK Negeri seKabupaten
Badung sehingga jumlah sasarannya bertambah
menjadi 10 SMU/SMK Negeri se­Kabupaten Badung.
Langkah inovatif dan terobosan yang telah dilakukan ini
merupakan wujud kongkret serta keseriusan Dinas Kesehatan
Kabupaten Badung untuk memerankan diri secara aktif dalam
program penanggulangan penyakit kanker dan meningkatkan
derajat kesehatan di Badung.
5. PROGRAM LKB
Dari 13 UPT Puskesmas dan 1 Rumah Sakit yang ada di
Kabupaten Badung, 9 (Sembilan) Unit diantaranya sudah
dilatih tentang Layanan IMS, HIV dan AIDS Komprehensif
Berkesinambungan (LKB). 5 (lima) Unit lainnya sudah
melaksanakan pelayanan secara maksimal dalam kurun waktu
yang berbeda.
Usaha yang dilaksanakan di LKB meliputi upaya preventif,
kuratif, dan rehabilitatif, dalam bentuk :
Penyuluhan/Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Promosi penggunaan kondom secara konsisten pada
hubungan sex yang berisiko
Pengendalian faktor Risiko
Layanan Konseling dan Test Sukarela (KTS) dan Test
Inisiatif Tenaga Kesehatan (TIPK)
Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP)
Perawatan HIV berbasis Keluarga
Pencegahan Penularan HIV dari Orang Tua ke bayinya
(PPIA)
Pengurangan dampak buruk Narkoba dan layanan jarum
suntik steril
Layanan Infeksi Menular Seksual (IMSW)
Pencegahan penularan melalui Produk darah
Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA (Orang Dengan
HIV dan AIDS) maka pemberian ARV diberikan sedini
mungkin, yang disebut dengan SUFA (Strategic Use For ARV).
Diharapkan dengan strategi ini penularan HIV dapat ditekan.
Keberhasilan program ini dapat dilihat dari 808 orang kasus
HIV positif yang masuk dalam perawatan.ART sebesar 84,53
%, dinyatakan memenuhi syarat untuk diberikan ARV sebesar
97,25 % dan 71,45 % diantaranya secara teratur sudah
mengambil obat di Layanan PDP RSUD Badung, Ini artinya
bahwa yang lost follow up dikatagorikan sedikit.
6. PROGRAM MAWAS
Kanker payudara merupakan gangguan kesehatan atau
penyakit yang paling ditakuti perempuan. Salah satu
penyebabnya karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan jika
ditemukan pada stadium lanjut. Padahal, jika dideteksi secara
dini, penyakit ini bisa diobati sampai sembuh. Akhir­akhir ini
insiden kanker sebagai salah satu jenis penyakit tidak menular
semakin meningkat. Menurut Word Health Organization
(WHO) jumlah penderita kanker di dunia setiap tahun
bertambah sekitar 7 juta orang dan dua per tiga diantaranya
berada di negara­negara yang sedang berkembang. Jika tidak
dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita
kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030.
Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara
miskin dan berkembang (International Union Against Cancer
/UICC, 2009).
Menurut data Patology Based Cancer Registry yang
dilakukan oleh Ikatan Patologi Anatomi Indonesia yang
bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI), di
Indonesia kanker payudara menduduki posisi kedua dari
semua jenis kanker yang sering diderita. Di Indonesia, tiap
tahun diperkirakan terdapat 100 penderita baru per 100.000
penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada
sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahunnya.
Sejalan dengan itu, data empiris juga menunjukkan bahwa
kematian akibat kanker dari tahun ke tahun terus meningkat.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, sekitar 5,7%
kematian semua umur disebabkan oleh kanker ganas. Menurut
Prof. Tjandra Yoga, di Indonesia prevalensi tumor/kanker
adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab
kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi,
cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2007).
Menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pada lima tahun
terakhir menyebutkan kejadian kanker payudara menempati
urutan pertama atau 32% dari total kasus kanker. Total
penderita kanker payudara 40% berobat pada stadium awal
dan 30% dari total jumlah penderita kanker terdeteksi
stadium lanjut lokal dan 30% dengan metastasis. Berdasarkan
data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2009,
kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien
rawat inap di seluruh RS di Indonesia (21, 69%).
Sesuai data Riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker pada
semua umur berdasarkan diagnosis di Provinsi Bali mencapai
0,20%, Badung 0,51% dan Indonesia sebesar 0.14%.
Berdasarkan data dari Rumah Sakit Sanglah Denpasar
(RSUP), setiap tahunnya tercatat 200 kasus baru kanker
payudara. Kebanyakan pasien datang dalam keadaan stadium
lanjut yang prosentase kesembuhannya menjadi lebih kecil jika
dibandingkan berobat saat stadium dini.
Tingginya tingkat kematian akibat kanker terutama di
Indonesia antara lain disebabkan karena terbatasnya
pengetahuan masyarakat tentang bahaya kanker, tanda­tanda
dini dari kanker, faktor­faktor risiko terkena kanker, cara
penanggulangannya secara benar serta membiasakan diri
dengan pola hidup sehat. Tidak sedikit dari mereka yang
terkena kanker, datang berobat ke tempat yang salah dan baru
memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan ketika
stadiumnya sudah lanjut sehingga biaya pengobatan lebih
mahal. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Badung
bersama YKI senantiasa mengupayakan penanggulangan
kanker dengan mengadakan berbagai program dan kegiatan
dibidang promotif, preventif, kuratif dan supportif serta
menekankan pentingnya deteksi kanker secara dini.
Kanker payudara bisa disembuhkan jika diketahui sejak
stadium awal. Untuk itu, perlu dilakukan deteksi dini yang kini
bisa dilakukan dengan mamografi untuk wanita usia 40 tahun
ke atas dan USG bagi remaja ke atas. Bagi wanita yang
memiliki faktor risiko tinggi, disarankan melakukan
pemeriksaan mamografi atau USG setiap sekali setahun. Satu
dari dua wanita di dunia memiliki risiko yang lebih besar
terkena kanker payudara karena jaringan payudara yang
padat. Persentase ini akan lebih tinggi untuk wanita Asia
termasuk Indonesia. Sedangkan sensifitas mammografi pada
pemeriksaan payudara yang padat hanya sebesar 27% (RSNA,
2008). Dengan kata lain, sekitar 3 dari 4 wanita dengan
jaringan payudara yang padat berisiko tidak terdeteksi adanya
kanker apabila bergantung hanya pada hasil pemeriksaan
mammografi. Dengan menggunakan 3D Breast Ultrasound
dapat meningkatkan deteksi kanker hingga 2 kali lipat yaitu
dari 3.6 menjadi 7.2 per 1.000 apabila dibandingkan dengan
pemeriksaan mammografi saja ( Eur Radiol, 2010).
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka pada Tahun 2014 ini
Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kesehatan
membuat satu inovasi lagi yaitu program deteksi dini kanker
payudara mobile (Program MAWAS)
Program MAWAS atau Mangupura Woman Services adalah
program layanan kesehatan perempuan yang
memprioritaskan layanan deteksi dini kanker payudara secara
bergerak (mobile) dengan sasaran utama yaitu wanita usia
subur (WUS) di Kabupaten Badung. Layanan ini berupa mobil
bus dengan desain khusus yang dilengkapi alat ABVS
(Automated Breast Volume Scanner) dan USG 4 Dimensi serta
peralatan audio visual untuk penyuluhan dengan maksud
mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Alat ABVS
merupakan pendeteksi canggih terhadap penyakit kanker
payudara dengan sistem robotic sehingga saar pelayanan,
pasien tidak akan merasa sakit seperti layaknya alat
mammografi. Layanan deteksi dini kanker payudara dengan
model seperti ini adalah satu­satunya di Indonesia.
Pengadaan mobil deteksi dini kanker payudara (MAWAS) yang
bersumber anggaran APBD perubahan ini akan berkeliling
melakukan pelayanan ke seluruh kecamatan di Kabupaten
Badung seminggu 2 kali yaitu hari Selasa dan Kamis serta 3
kali (Senin, Rabu dan Jumat) bertempat di Pusat
Pemerintahan Kabupaten Badung. Dengan demikian cakupan
besaran resiko penyakit kanker payudara di Kabupaten
Badung secara dini dapat diketahui dengan valid dan real
time. Selain itu masyarakat yang mendapat pelayanan deteksi
dini ini tidak akan dipungut biaya apapun atau gratis karena
semua operasional pembiayaannya ditanggung oleh
Pemerintah Kabupaten Badung.
DAMPAK INOVASI PELAYANAN PUBLIK BIDANG
KESEHATAN
PROGRAM LAYANAN UGD 24 JAM
Program inovasi yang telah dilaksanakan sejak Januari 2011
ini, telah memberikan dampak yang sangat signofikan
terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat di
Kabupaten Badung. Program ini secara nyata telah
memberikan jangkauan dan akses waktu pelayanan yang lebih
luas kepada masyarakat untuk berobat ke puskesmas sehingga
akan berimplikasi pada peningkatan jumlah kunjungan pasien.
Di sisi lain memunculkan inovasi baru untuk mengupayakan
mutu pelayanan yang berkualitas dengan terbatasnya jumlah
SDM yang ada. Inovasi baru tentunya bagaimana pengaturan
shift kerja, reward petugas jaga di luar jam kerja PNS, dsb.
2. PROGRAM JKKB MANGUWARAS
Program JKKB Manguwaras ini, berdasarkan tujuan
dibentuknya telah berdampak secara signifikans terhadap
harapan masyarakat. Sebagai warga masyarakat Badung,
mereka telah memahami dan merasakan bahwa JKKB
Manguwaras ini telah menjamin tanggungan pelayanan
kesehatan lebih komperehensif, meringankan beban
masyarakat di saat berobat dan mencegah masyarakat di saat
sakit berat tidak membuat jatuh miskin.
3. PROGRAM BADUNG GETTING TO ZERO
Program Badung Getting To Zero berdampak secara
signifikans dalam penamggulangan HIV. Hal ini terkait dengan
beberapa capaian program antara lain adalah penggunaan
kondom pada hubungan seks beresiko tinggi, saat ini
permintaan pada lokasi tersebut meningkat hingga 80%. Ibu
hamil juga terpapar program pencegahan dari ibu ke anak di
fasilitas pelayanann kesehatan yang capaiannya adalah 100%.
Para bidan kini telah tersosialisasikan dengan program PPIA,
mereka mampu mendorong 80% ibu hamiil untuk melakukan
tes HIV. Upaya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi
terhadap penderita AIDS diindikasikan dengan 65%
tersosialisasikannya Peraturan Daerah No.1 tahun 2008 dan
tata cara pemulasaran jenazah ODHA pada populasi umum
dan populasi kunci.
4. PROGRAM VAKSINASI KANKER SERVIKS
Program vaksinasi kanker serviks gratis yang telah
dilaksanakan oleh SKPD Dinas Kesehatan Badung berdampak
sangat signifikan terhadap upaya pencegahan dini dan
penanggulangan kanker serviks. Upaya Pencegahan Primer
dilaksanakan melalui dua kegiatan yaiitu edukasi/sosialisasi
dan imunisasi HPV. Program vaksinasi jalur sekolah dipilih
sebagai kegiatan unggulan Dinas Kesehatan Kabupaten
Badung yang meliputi penyuluhan, pelayanan, dan
kesinambungan. Umur 10­25 tahun merupakan masa yang
paling efektif dilakukan vaksinasi kanker Serviks karena pada
umur tersebut pembentukan antibodi dalam tubuh mencapai
maksimal. Populasi targetnya adalah Siswa SMU khususnya
siswa perempuan kelas I. Hal tersebut didasarkan pada
pertimbangan aspek sosial dan ketersediaan dana. Anak SMU
sudah memasuki fase remaja dimana pergaulan lebih rentan
terhadap hal­hal yang negative. Program ini merupakan
program pioneer di Kabupaten Badung sehingga dituntut
selektif dalam penggunaan dana tetapi dalam pelaksanaannya
tepat sasaran.
5. PROGRAM LKB
Program LKB yang telah dilaksanakan berdampak sangat
signifikan terhadap kinerja SKPD Dinas Kesehatan Badung.
Hal ini mengingat program LKB tersebut merupakan upaya
inovatif yang bersifat komprehensif dalam rangka mengurangi
penularan infeksi IMS. HIV dan AIDS. Program LKB selain
merupakan layanan yang bersifat preventif dan kuratif, juga
merupakan layanan yang bersifat rehabilitative. Selain itu
dalam layanan LKB, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA
(Orang Dengan HIV dan AIDS) maka pemberian ARV
diberikan sedini mungkin, yang disebut dengan SUFA
(Strategic Use For ARV), diharapkan dengan strategi ini
penularan HIV dapat ditekan. Keberhasilan program ini dapat
dilihat dari 808 orang kasus HIV positif yang masuk dalam
perawatan.ART sebesar 84,53 %, dinyatakan memenuhi syarat
untuk diberikan ARV sebesar 97,25 % dan 71,45 % diantaranya
secara teratur sudah mengambil obat di Layanan PDP RSUD
Badung, Ini artinya bahwa yang lost follow up dikatagorikan
sedikit.
6. PROGRAM MAWAS
Sehubungan program ini merupakan inovasi terbaru yang
diluncurkan berdasarkan anggaran perubahan APBD
Kabupaten Badung Tahun 2014 maka signifikansi dampaknya
terhadap pelayanan publik belum bisa diukur karena baru
akan dioperasionalkan bulan Januari tahun 2015. Secara
estimasi, kemungkinan besar memberikan dampak ungkit yang
tinggi dalam penanggulangan kanker payudara. Dasar
pertimbangannya yaitu pasien tidak merasakan sakit, tidak
dikenakan biaya dan akses untuk mendapatkan pelayanan
menjadi sangat dekat. Secara defacto, daftar tunggu atau
antusiasme pasien untuk mendapatkan pelayanan
pemeriksaan juga sudah banyak.
Oleh : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung
Dr. I Gede Putra Suteja


Oleh : dikesbadung | 20 Mei 2015 | Dibaca : 9836 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :