SIAPA YANG BERPERAN DALAM PENANGGULANGAN HEPATITIS B, PEMERINTAH ATAU MASYARAKAT?

  • 02 April 2019
  • Oleh: diskes
  • Dibaca: 503 Pengunjung

“Kenali dan Cegah Hepatitis B”

Apa itu penyakit Hepatitis?

Hepatitis Virus merupakan penyakit menular dalam bentuk peradangan hati yang disebabkan oleh virus dan menjadi masalah kesehatan masyarakat serta memerlukan upaya penanggulangan melalui pencegahan, pengendalian dan pemberantasan agar kesakitan dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dapat ditekan serendah-rendahnya (Kemenkes RI, 2015). Hepatitis virus terdiri dari  Hepatitis A, B, C, D dan E. Hepatitis A dan E sering muncul sebagai kejadian luar biasa yang ditularkan secara fecal oral (feses ke mulut) dan biasanya berhubungan dengan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), bersifat akut yaitu timbul secara mendadak dan cepat memburuk, tetapi penyakit ini juga dapat sembuh dengan baik. Sedangkan Hepatitis B, C dan D (jarang) ditularkan secara parenteral atau melalui darah, dapat menjadi kronis (menahun) dan menimbulkan cirrhosis (penyakit hati) dan lalu kanker hati (Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan Permenkes RI Nomor 52 Tahun 2017, diharapkan tidak ada bayi yang lahir dengan penyakit HIV, Sifilis dan Hepatitis B mengingat berdampak pada kesakitan, kecacatan dan kematian serta memerlukan pelayanan jangka panjang dengan biaya yang besar. Hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Badung Tahun 2018 mencapai 134 dari 6617 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan yaitu 2,02 % ibu hamil positif Hepatitis B. Sehingga perlu upaya penanggulangan Hepatitis Virus, khususnya Hepatitis B secara bersama-masa oleh pemerintah dan masyarakat.

Bagaimana Cara Penularan Hepatitis B?

Hepatitis B merupakan virus yang dapat ditemukan pada darah, semen (air mani), secret servikovaginal, saliva (cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar ludah) atau cairan tubuh lainnya pada penderita dan virus ini dapat bertahan pada cairan tersebut meskipun sudah berada di luar tubuh. Hepatitis B dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain apabila terjadi kontak dengan darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, misalnya melalui transfusi darah, alat suntik, hubungan seksual maupun pemakaian alat-alat yang sudah terkontaminasi seperti pisau cukur dan sikat gigi. Penularan tidak terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. (Novertha, Chandra, & Enalia, 2013). Menurut (Siregar, n.d.), penularan infeksi virus Hepatitis B dibagi menjdi 2 cara yaitu :

  1. Penularan vertikal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HBsAg positif kepada anak yang dilahirkan yang terjadi selama masa perinatal (bayi sejak berumur 28 minggu dalam kandungan dan baru lahir sampai berumur 7 hari di luar kandungan). Risiko terinfeksi pada bayi mencapai 50-60%.
  2. Penularan horizontal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang pengidap virus hepatitis B kepada orang lain disekitarnya, misalnya melalui hubungan seksual.

Selain penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HBsAg positif kepada anak, pekerjaan yang berisiko tinggi tertular virus ini salah satunya adalah petugas kesehatan (dokter, perawat, petugas laboratorium dan mahasiswa kedokteran) (Novertha et al., 2013). Hal ini dapat dikarenakan seringnya keterpaparan petugas kesehatan dengan pasien Hepatitis B terutama programmer/ pemegang program Hepatisis di layanan kesehatan.

Apa Saja Gejala Hepatitis B?

Banyak orang tidak menyadari bahwa telah menderita penyakit Hepatits B karena penyakit tersebut tidak menunjukan gejala yang jelas, hanya sedikit kuning pada mata dan kulit disertai lesu. Sebagian besar penderita sering tidak sadar bahwa sudah terinfeksi virus Hepatitis B dan tanpa sadar pula juga dapat menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007). Menurut (Harahap, 2008) Virus hepatiti B yang masuk kedalam tubuh akan berkembang biak di dalam jaringan hati dan kemudian merusaknya. Gejala yang timbul akibat penyakit ini dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai kelainan hati yang berat atau penyakit yang berjalan menahun (kronis). Biasanya gejala penyakit hepatitis ialah kekuningan pada mata, rasa lemah, mual, muntah, tidak nafsu makan dan demam. Sedangkan pada anak sering menimbulkan gejala yang minimal bahkan sering terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala klinis (sub-klinik), namun sering menyebabkan hepatitis kronik (menahun), yang dalam kurun waktu 10 – 20 tahun dapat berkembang menjadi cirrhosisataupun hepatoma (kanker hati).

Bagaimana Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Penanggulangan Hepatitis B?

Hepatitis B merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditanggulangi tidak hanya oleh pemerintah melainkan masyarakat itu sendiri agar eliminasi penyakit Hepatitis B dapat disegerakan. Dalam penanggulangan Hepatitis B mengacu pada Permenkes RI Nomor 52 tahun 2015, Pemegang program Hepatitis Dinas Kesehatan Kabupaten Badung sebelumnya yaitu Ni Made Sukaryawati, SKM telah mengambil langkah awal dengan memperkuat layanan kesehatan yaitu melaksanakan kegiatan Training SIHEPI (Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan) yang diselenggarakan oleh Subdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Dirjen P2P Kementerian RI pada tanggal 12 s/d 14 April 2018 lalu. Kegiatan tersebut merupakan training pencatatan dan pelaporan secara terpadu bagi petugas puskesmas khususnya pengelola/pemegang program hepatitis, pengelola program HIV dan pengelola program KIA Puskesmas se-Kabupaten Badung. Tidak hanya itu saja, petugas kesehatan di Puskesmas se-Kabupaten Badung juga diberikan imunisasi Hepatitis B karena berisiko tertular penyakit ini. Selain itu pemerintah juga melakukan penanggulangan Hepatitis Virus dengan melakukan pemeriksaan Hepatits B pada Ibu hamil untuk memutus penularan kepada bayinya, melakukan promosi kesehatan, perlindungan khusus, pemberian imunisasi Hepatitis B kepada bayi yang baru lahir segera setelah kelahirannya, skrining darah donor, skrining organ untuk transplantasi dan penggunaan alat-alat medis yang berpotensi terkontaminasi virus hepatitis.  

Lalu bagaimana peran masyarakat dalam penanggulangan Hepatitis B?

Dalam hal ini beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menurunkan risiko penularan :

  1. Menggunakan alat suntik dan perlengkapan yang steril
  2. Pastikan selalu jarum steril ketika melakukan tattoo dan tindik
  3. Gunakan selalu peralatan pribadi seperti pisau cukur dan lain sebagainya yang berpotensi menularkan
  4. Menggunakan kondom apababila melakukan hubungan seksual yang berisiko
  5. Khusus untuk ibu hamil diharapkan melakukan pemeriksaan Hepatisis B pada layanan kesehatan dan diwajibkan memberikan imunisasi Hepatitis B pada bayinya yang baru lahir.

 

“Jangan tunda lagi, segerakan dari sekarang, STOP Hepatitis B”

 

Oleh :

I Wayan Nova Suandita, S.KM

Seksi P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Badung

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Harahap, J. (2008). Evaluasi cakupan imunisasi hepatitis b pada bayi usia 12 – 24 bulan di kabupaten asahan propinsi sumatera utara 1. Penelitian Rekayasa, 51–57.

Kemenkes RI. (2014). Infodatin-Situasi dan Anlisis Hepatitis?: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Repulik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus.

Kemenkes RI. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu Ke Anak. Jakarta.

Misnadiarly. (2007). Beberapa FaktorYang Berhubungan Dengan Status Kelengkapanlmunisasi Hepatitis Bpada Bayi di Puskesmas Lanjas Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Novertha, E. D., Chandra, F., & Enalia, Y. (2013). Gambaran Pengetahuan dan Praktik Mahasiswa Kepaniteraan Klinik tentang Pencegahan Penularan Infeksi Hepatitis B, 1–7.

Siregar,  dr. F. A. (n.d.). Hepatitis B Ditinjau dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pencegahan. Sumatera Utara: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.


  • 02 April 2019
  • Oleh: diskes
  • Dibaca: 503 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya